Wednesday, 15 February 2017

Ummi, Bersabarlah dalam Membersamainya


Ada pelajaran dalam setiap peristiwa, pun kemarin saat membersamai ananda. 
Hari kemarin, kakak memilih untuk bersepeda di luar rumah. Sembari menggendong adik, saya menemani kakak bersepeda. Menyemangati kala kesulitan mengayuh pedal, membantunya melewati jalan yang tidak rata atau memberikan apresiasi saat kakak berhasil menyeberang. Adik tenang dalam buaian. Lambat laun, stok energi saya menipis. Tak sebanding dengan semangat kakak untuk bergerak kesana kemari. Mulailah saya melayangkan negosiasi.

Ummi : Kak, Ummi masuk sebentar ya. Mau taruh adik di kamar.
Kakak : Lho, jangan. Adik temani kakak main sepeda. Sambil digendong Ummi.
Ummi : Tapi sebentar aja ya. Ini panasnya menyengat kak.
Kakak : Lho, kakak maunya main sepeda yang lama
Ummi : Hmm..begini saja ya. Ummi pasang alarm 10 menit, nanti kalau alarmnya berbunyi, kita masuk rumah. Sepakat?
Kakak : Nah, iya. Sepakat Mi.

Bahu sudah pegal-pegal, ingin memintanya main di dalam rumah, ingin meletakkan adik di kasur, ingin segera menuntaskan aktivitas bersepeda ini. Tapi kakak masih sangat antusias. Tiba-tiba, air menitik dari langit.

Ummi : Kak, ada air menetes. Hujan ya. Kakak mau hujan-hujanan atau masuk rumah?
Kakak : Iya, ada air menetes ya Mi. Mau masuk aja, Mi
Ummi : Oke, sekarang sepedanya dikayuh sampai masuk teras rumah ya.

Berkali-kali dia berusaha mengayuh, agak terburu-buru karena air yang menitik semakin banyak. dan akhirnya kami pun berhasil masuk ke teras rumah untuk berteduh. Lalu alarm pun berbunyi. Ya, setelah kami mengakhiri acara bermain sepeda.

MasyaAllah… saya terkesima, masih kaget karena tiba-tiba ada rintik hujan yang menghampiri kami. Dengan kuasa Allah, kesulitan saya teratasi tanpa mengorbankan perasaan kakak. Lalu tersenyum geli mengingat ketidaksabaran saya beberapa menit lalu.

#griyariset
#hari11
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip






0 comments:

Post a Comment