Thursday, 9 February 2017

Siap Menerima Resiko?

Usai sholat Isya’, kakak terlihat sudah mengantuk.
Ummi : Kakak sudah mengantuk?
Kakak : Iyaaaa….ngantuk Mi, mau tidur
Ummi : Boleh…Yuk., gosok gigi dulu
Kakak : Ngga mau, kakak mau tidur…
Ummi : Boleh… Kak, kakak ingat cerita yang di buku kakak? Yang Maura makan coklat itu. Habis makan, gula-gula makanan itu menempel di gigi dan merusak gigi. Kakak siap menerima resiko? Siap giginya bolong?
Kakak : Ngga Miiiii… kakak mau gosok gigi sekarang
Ummi : Boleh, yuk. Mau digosokin Ummi atau sendiri?
Kakak : Sendiri aja.
Ummi : Oke, Ummi gosok gigi juga ya. Kita sama-sama. Ummi juga ngga mau giginya bolong
(Lalu kakak dan ummi beranjak ke kamar mandi dan menggosok gigi)
Kakak : Sudah Mi
Ummi : Oke. Kakak, Ummi boleh periksa kebersihannya?
Kakak : Buat apa?
Ummi : Siapa tahu ada yang belum kena gosok, kakak belum menjangkau.
Kakak : Iya, boleh.
(Gosok gigi pun selesai, kami menuju kamar tidur)
Ummi : Udah bersih dan segar ya kak. Kita sama.
Kakak  : Iya Mi. Kalau giginya ngga bolong, waktu periksa ke dokter gigi ngga ditambal ya Mi giginya? Malah dikasih hadiah?
Ummi : Iya, insyaAllah :D (sepertinya perlu menyiapkan hadiah kalau akan ke dokter gigi, hihi)

Family forum kali ini menjelang tidur. Dari kakak, Ummi belajar untuk menaklukkan rasa malas. Ternyata fitrah belajar anak begitu hebat. Meski mengantuk sekalipun, saat disampaikan pembelajaran yang masuk dalam logika mereka, mereka akan bergerak.

Dalam komunikasi kali ini, Ummi berupaya untuk mengenalkan resiko, alih-alih menggunakan kalimat perintah lebih baik mengajaknya untuk berpikir logika, sebab akibat dan menganalisa. Meminta izin saat akan memberikan perlakuan pada anak, untuk menghargai diri anak sebagai pribadi utuh. Mengajarkan dengan contoh, bukan hanya memerintah.

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

  

0 comments:

Post a Comment