Monday, 27 February 2017

Karena Karbohidrat Tak Harus Nasi



Nak, Ummi tidak ingin kau makan dengan terpaksa. Maka, saat sarapan tadi kau menolak untuk menyantap nasi yang sudah terhidang, ummipun membiarkan. Hingga hari semakin siang dan kau pun tak kunjung menyentuh nasi di piring. Ummi menanti dengan mawas hati.

Hingga kemudian ada penjual roti yang suara belnya sudah akrab di telingamu sejak kita masih tinggal di Bandung. Dan kau pun meminta untuk membelinya. Setelah roti berada dalam genggamanmu, kau menyantap dengan lahap. Dua potong besar kau habiskan. Ummi pun sedikit tersenyum lega.

Di lain waktu, kakak juga lebih melirik kolak pisang dibanding piring makan yang terhidang di meja. Mica pun membolehkan. Kakak bebas menentukan mana yang dikonsumsi terlebih dahulu.
Asupan karbohidrat memang telah terpenuhi di porsi itu, tapi belum merupakan gizi seimbang. Tapi kakak sudah menolak jika ditawari menu makanan yang lain. Bagi kakak, tak mudah mengidentifikasi rasa lapar. Kakak baru mengatakannya jika sudah merasa sangat lapar. Sebelum itu, kakak belum bisa merasakannya dan terlarut dengan aktivitas bermainnya. Ini masih menjadi tantangan yang harus Mica pecahkan.

#hari3


0 comments:

Post a Comment