Sunday, 11 June 2017

Sepucuk Kartu Ramadhan dari Padepokan Margosari


Siang kemarin suara pak pos mengagetkan kami. Ada sepucuk kertas yang mendarat. Sebuah kartu pos manis dari Salatiga, kiriman padepokan Margosari. Beberapa waktu lalu memang mba Ara meminta alamat-alamat keluarga perak, karena akan mengirimkan kartu pos – kartu pos kepada kami. Dan, kiriman itu kini sudah sampai di tempat tinggal kami.

Kartu pos itu disambut kakak dengan mata berbinar. Maklum, ini pertama kalinya dia melihat dan memegang kartu pos. Maka, jadilah ini mini project dengan tema kartu pos. Dengan cepat dia bertanya,

“Ini apa Mi?”
“Dikirim sama pak pos? Kenapa?”
“Ada gambarnya juga ya, kayak punya kakak yang gambar hello kitty…”

Pernyataan terakhir ini membuat saya agak berpikir. Hooo….ternyata gambar yang kakak maksud adalah stempel berwarna merah yang dibubuhkan disamping tulisan. Kalau kata mba Ara di grup perak, cap merah itu sama fungsinya dengan tanda tangan. Bertulisankan Zheng Feng Ing, yang artinya Zheng adalah marganya, feng adalah lebah dan ing adalah perkasa. Nah, kebetulan kak Raysa juga punya stempel yang dibelikan Abiya waktu beliau sempat mengikuti konferensi di Korea. Cuma bedanya bergambar Hello Kitty, hihi.

“Apa isinya?”

Hmmm…apa ya isinya? Selayaknya kartu pos lainnya, isinya adalah sebuah pesan.  Pesan ucapan 
selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan disertai bumbu pengingat,
“It is only 1% of not eating and drinking, the rest 99% is bringing our heart closer to Allah.”
Ah, benar. Puasa memang tak hanya menahan diri dari lapar dan haus. Tetapi tentang sebuah proses membawa hati untuk lebih mendekat pada Allah.
Pengingat ini membawa saya membuka kitab ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Kebetulan beberapa waktu lalu saya dan suami sempat membahas mengenai tiga tingkat dalam puasa. Dalam kitab ini, dipaparkan bahwa puasa memiliki tiga tingkat, yaitu puasanya orang awam, puasanya orang khusus dan puasa khususnya orang khusus.

Puasanya orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari dorongan syahwat. Sedangkan puasanya orang khusus adalah selain poin tingkat pertama, ditambahkan pula menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa khususnya orang khusus adalah puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah.

Ya Allah, malu rasanya. Tujuan kami tentu ingin meraih tingkatan tertinggi. Tapi usaha yang dilakukan, masih sekedar di tingkat pertama saja, itupun entah tercapai atau tidak. Tak apa, yang terpenting adalah keuletan dan ketangguhan untuk pantang menyerah. Mencoba lagi dan lagi. Setidaknya, Allah menilai semangat perbaikan yang kita upayakan.

Untukmu anakku, kakak dan adik, dari sini kita melihat contoh cara membahagiakan orang lain. Tak perlu mewah, cukup dengan ketulusan dan kehadiran hati. Maka semangatmu dalam memberi, akan memberi kehangatan dan kegembiraan bagi sang penerima. Hingga Allah gerakkan hati mereka untuk berbagi lebih luas lagi. Pemberian mendatangkan kebahagiaan, bukan? Untuk penerimanya, dan terlebih, adalah untuk pemberinya J

Referensi :
Grup WhatsApp PERAK 2017
Kitab Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Ghazali 

                

0 comments:

Post a Comment