Skip to main content

Pondok Ramadhan Pertama Kakak


Mata berbinar dan senyum terkembang menghiasi wajahnya siang itu. Rona wajahnya menyiratkan keinginan untuk segera berangkat, berjumpa dengan peserta pondok ramadhan lainnya yang sudah berkumpul di aula majlis ta’lim yang terletak di depan rumah.

Dengan memanggul tas ransel kecil di pundak, dia menunduk mengenakan sandalnya seraya memanggil, “Miiii…ayo berangkat Mi…”

Ummi yang sedang memakai gendongan, bersiap membawa adik, tergopoh-gopoh menenteng tas dan mengunci pintu. Bersegera, tak ingin menghilangkan raut antusias di wajah kecil kakak.
“Yuk kak, berangkat…” ajak mica sembari menggendong adik. Ya, hanya menyeberang jalan, lalu sampai ke tempat tujuan. Alhamdulillah, sebegitu nikmatnya, Allah dekatkan kami dengan majelis ilmu.

Pondok ramadhan ini berlangsung selama 3 hari 2 malam. Pesertanya semua anak-anak, namun lintas usia. Peserta terkecil adalah Raysa, sedangkan peserta paling besar adalah omnya Raysa dan teman-temannya, yang baru saja usai mengikuti Ujian Nasional Sekolah Dasar. Tak ada target apapun untuk kakak. Hanya memberikan ruang baginya untuk berpikir dan mencerna, kondisi sekitar yang berbeda dari biasanya. Kalau bosan, kakak bisa pulang. Toh tinggal menyeberang jalan.  Yangti pun menjadi panitia acara sehingga hampir selalu standby di tempat acara.

Ada sedikit catatan mica dari proses belajar kakak selama pondok ramadhan kemarin,
  1.  Kakak melihat langsung aktivitas para peserta pondok ramadhan yang mana hampir semua usianya diatas kakak. Kakak belajar bagaimana seorang anak memenuhi kebutuhannya sendiri, menyiapkan pakaian, menyimpan alat sholat sampai makan dengan tertib. Suatu malam, seusai buka bersama, kakak pulang ke rumah dan melapor, “Ummi…kakak makannya habis dan makan sendiri lo.” Atau saat adzan berkumandang, ummi menanyakan dimana mukena kakak, kakak jawab “Kakak simpan di bawah meja itu lo mi, kayak mba-mba.” Maksudnya kakak simpan di bawah meja, seperti santriwati peserta pondok ramadhan. Beberapa hari terakhir, sepulang dari pondok ramadhan, kakak menolak kalau ummi membantu melipatkan mukena. Alasannya, kakak sudah besar, sudah mandiri. Padahal sebelumnya biasanya kami berbagi. Kakak melipat bawahan, ummi melipat atasan. Hore, ummi semakin diringankan :)
  2. Ada proses melihat dan mendengar untuk menyerap informasi, kemudian memproses dan mencerna dengan daya nalarnya hingga kemudian menghasilkan pemikiran. Seperti misalnya saat akan berangkat, kakak  berujar, “Ummi, kakak nanti mau ikut pondok romadhon. Tidurnya disana ya. Sama mba A, mba B, temennya kakak yang…. (terdiam agak lama)…ngga laki-laki.”Pernyataan ini adalah kesimpulan sederhana yang muncul dari serangkaian proses berpikir kakak mengenai bagaimana acara pondok romadhon, apa yang akan dia lakukan disana, juga pemahaman perbedaan dan batasan antara laki-laki dan perempuan
  3. Anak dengan tipikal easy, slow to warm maupun difficult child, perlu diberikan ruang untuk mengasah kepercayaan dirinya. Maka terlepas dari apapun tipikal kakak, tugas kami sebagai orangtua adalah memfasilitasinya. Di acara kemarin, mica mendapat kesempatan mengisi sesi Cerita Anak Muslim, maka mica pun memperkenalkan diri sebagai kak Mesa dan dek Raysa. Sesi diawali oleh kakak dengan menyanyi lagu Ramadhan yang kami buat untuk bekal acara PERAK 2017 lalu, sebagai berikut :
Sebentar lagi datang bulan apa? Romadhon
Bulan puasa bagi siapa? Umat Islam
Yuk kita sambut dengan ceria, yuk kita sambut romadhon…

Simpel banget, khas anak batita. hihihi
Keesokan harinya, saat acara penutupan, kakak maju untuk mendapat apresiasi sebagai peserta terkecil. Kakak malu, minta didampingi ummi. It’s okay, ummi pun ikut maju mendampingi, ini pun sebuah bentuk memfasilitasi. Tak perlu khawatir, itu bukanlah pertanda bahwa anak tak berani tampil. Dia hanya mencari kenyamanan dan perlu kita penuhi itu.
Setelah pondok ramadhan ini, kakak semakin siap menjalani Ramadhan dengan penuh keceriaan :)




Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Materi 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahapan Belajar di Institut Ibu Profesional Setelah hampir tiga tahun belajar di Institut Ibu Profesional dan belum saja lulus. alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk semakin memperdalam ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional dengan mengikuti program matrikulasi. Program matrikulasi Ibu Profesional batch #1 ini masih khusus diperuntukkan bagi para koordinator, fasilitator dan pengurus rumah belajar yang tersebar di setiap wilayah. Jika batch #1 selesai dijalankan, akan diadakan batch-batch selanjutnya untuk para member Institut Ibu Profesional. Tujuan diadakan program matrikulasi Ibu Profesional adalah agar setiap member memiliki kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang "Ibu Profesional" yang menjadi kebanggan keluarga dan komunitas.  Program matrikulasi ini mulai berlangsung tadi malam, 9 Mei 2016 pukul 20.00-21.00 via WhatsApp dengan materi pembuka [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Sebelum materi disampaikan, bu Septi

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan