Wednesday, 16 August 2017

Sebuah Dialog Keimanan


Pertanyaan-pertanyaan seputar Sang Pecipta menghiasi pembelajaran kami beberapa hari terakhir.  Membuat ummi semakin tersadar bahwa memang benar, sejatinya fitrah belajar dan bernalar sudah terinstall dalam diri anak-anak. Tugas orangtua hanya jangan sampai mencederainya. Hingga yang tersemai itu tumbuh semakin menguat, untuk kemudian kokoh dan mengokohkan. Namun, bukankah tak mencederai artinya memfasilitasi dengan baik? Sehingga tak ada pilihan lain selain memantaskan diri? Ah, ummi tertohok dan tertunduk malu.

Usaha apa aja yang sudah ummi lakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah besarNya ini? Betapa semakin bertambah usia anak-anak tak disertai dengan bertambahnya ilmu ummi secara signifikan. Banyak perkara kecil bin printhilan yang menjadi alasan klasik tak berujung. Haaaa….ayo lelah, berubahlah menjadi lillah :D

Mi, Allah itu tidur ngga?
Pertanyaan ini muncul sewaktu kami sedang membaca buku bersama-sama. Ummi lupa awal mulanya, tapi ummi jadi penasaran apa yang kakak bayangkan mengenai Allah. Tugas ummi adalah bagaimana mentransfer pemahaman mengenai iman ke pikiran konkrit khas anak-anak. Pertanyaan kakak membuat ummi membuka asmaul husna. Allah bersifat Al Hayyu Al Qayyum, yang artinya memiliki sifat hidup yang sempurna dan tidak bergantung pada makhlukNya. Mengantuk dan tidur adalah sifat kekurangan, yang mustahil dimiliki oleh Allah. Jika Allah itu mengantuk dan tidur, siapakah yang menjaga, memberi rezeki dan mengatur bumi beserta isiNya? Dan Allah memiliki sifat sempurna secara mutlak. Sehingga tentu Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.

Hal ini dipertegas oleh Ayat Kursi, dalam Surat Al Baqarah ayat 255,
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Mi, Allah itu gimana? Kita bisa melihat Allah?
Pertanyaan kedua ini pun membuat ummi garuk-garuk kepala. Kita tidak dapat melihat Allah dan tak kuasa membayangkanNya. Dan atas petunjuk Allah yang menggerakkan tangan dan mata ummi, Allah pertemukan ummi dengan jawaban di kitab tafsir.
Surat Al An’am ayat 103
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dalam tafsir surat Al An’am ayat 103 dipaparkan bahwa Allah merupakan Zat yang Maha Agung yang mana tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, karena indera manusia itu memang diciptakan dalam susunan yang tidak siap untuk melihat zatNya. Manusia diciptakan dari sebuah materi, inderanyanya hanya menangkap materi-materi belaka dengan perantara materi pula, sedangkan Allah bukanlah materi. Maka Allah tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Matahari terik yang tak kuasa kita lihat silaunya saja adalah ciptaan Allah. Melihat Sang Penciptanya tentu kita tak kuasa.

Namun ternyata, pada hari Kiamat, orang-orang beriman akan dapat melihat Allah.
Nabi Muhammad bersabda,
Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu di hari Kiamat seperti kamu melihat bulan di malam bulan purnama, dan seperti kamu melihat matahari di kala langit tak berawan. (HR Bukhari)

Sedangkan bagi orang kafir, kemungkinan melihat Allah tertutup bagi mereka.
Allah berfirman,
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. (Al Mutaffifin ayat 15)

Mi, Allah itu dimana?
Singgasana Allah itu di Arsy. Namun Allah memiliki sifat Maha Mengetahui, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, dan bashirah (penglihatan)Nya dapat menembus seluruh yang ada, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya, baik bentuk maupun hakikatNya. Di surat Al An’am ayat 103 diatas juga dipaparkan bahwa Allah Maha Halus, tidak mungkin dijangkau indera manusia dan betapa halusnya segala sesuatu, tetap akan diketahui oleh Allah, tidak ada yang tersembuny dari pengetahuanNya. Sehingga Allah selalu mengawasi dan mengetahui apa yang kita lakukan.

Nak, singgasana Allah itu di Arsy, namun pengawasan Allah sangat dekat dengan kita. Ada di depan kita, ada di belakang kita, di kanan kita, di kiri kita, di atas kita, di bawah kita, semuanya Allah ketahui. Allah selalu bersama kita, dimanapun kita berada. (Al Hadiid ayat 4)

Nak, ummi sadar ummi jauh dari mumpuni untuk dialog keimanan ini. Namun memfasilitasi rasa penasaranmu, menanamkan aqidah yang kuat dan tauhid yang lurus adalah tanggungjawab kami, orangtuamu. Maka, semoga Allah memberikanmu pemahaman yang benar.

#fitrahbelajar
#fitrahbernalar
#fitrahkeimanan



0 comments:

Post a Comment