Tuesday, 1 August 2017

Menghitung Kuantitas dengan Balok Susun


Yeay! Ummi dan kakak masih melanjutkan mengerjakan tantangan 10 hari di kelas bunda sayang materi #6. Ummi dan abi menyadari bahwa banyak orang dewasa yang menganggap matematika sebagai momok. Kami beruntung karena kami menyukai matematika, meskipun juga tidak tergolong mahir. Namun kami merasakan sekali bahwa berpikir secara logis, runut dan sistematis sangat memudahkan kami dalam beraktivitas, menyamakan frekuensi dan berkomunikasi produktif. Maka saat mendapat tantangan mengenai matematika ini, yang menjadi titik tekan kami adalah bagaimana memfasilitasi anak supaya menyukai matematika.

Dunia anak adalah dunia bermain, namun mereka tak pernah bermain-main (sekedarnya) dalam bermain. Maka, dalam menjalankan tantangan ini kami memperbanyak stimulasi matematika logis dalam bentuk permainan. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, ini adalah jam riset di pendidikan rumah keluarga kami. Sebelumnya, kami mengondisikan supaya ummi dan kakak sudah siap belajar, adik juga sudah tidur pagi. Sehingga kami berdua bisa fokus bermain dan belajar bersama, berdua saja.

Hari ini kami belajar mengenai kuantitas. Kakak sudah bisa menghitung bilangan 1 sampai 10, namun belum mengenai simbolnya. Maka kami membuat flashcard angka dari kardus. Kardus bekas kami potong kecil-kecil. Disini kakak belajar menggunakan penggaris dan menarik sebuah garis lurus. Ummi tuliskan angka di potongan kardus tersebut. Kemudian di sampingnya, ummi bubuhkan titik-titik sebanyak angka yang tertulis.

Kartu bertuliskan angka dan titik-titik perlahan kakak cermati. Kami hitung satu persatu jumlah titiknya. Lalu ummi kenalkan angka yang tertera di sebelah titik-titik. Kakak mengenal angka satu, tujuh dan empat sebagai sekelompok garis lurus. Angka 2  dan 5 seringkali terbalik karena serupa. Begitupun angka 9 dan 6, juga 3 dan 8.  Aha! Ummi sepertinya perlu membuat analogi benda yang menyerupai bentuk masing-masing angka untuk memudahkan kakak. Kakak cukup fokus dalam mengamati. Jika suatu menarik bagi kakak, maka kakak bisa abai pada kondisi sekelilingnya hingga menemukan apa yang kakak cari.

Tiba-tiba terdengar suara adik. Adik sudah bangun rupanya. Ini adalah sebuah tantangan bagi ummi untuk memberikan contoh pada kakak, bagaimana mengubah kondisi yang awalnya dirasa sebagai masalah berubah menjadi tantangan. Membangkitkan mental kakak supaya berperan sebagai pemberi solusi. Ummi menggendong adik dan melihat balok susun.

Aha!
Bagaimana kalau adik diajak untuk bermain balok susun?
Bagaimana jika kakak dan adik bermain bersama dengan tema berbeda?
Mengapa tidak menjadikan balok susun sebagai media belajar menghitung kuantitas?

Balok susun pun dibawa ke tempat kami belajar. Kebetulan pagi ini kami belajar di teras rumah yangti. Dan adik juga sedang senang bereksplorasi di luar rumah. Balok susun dibuka, adik mengambilnya secara acak. Sedangkan ummi mengambil balok-balok yang berbentuk persegi. Ummi susun kartu angka tersebut memanjang dari atas ke bawah. Di sampingnya ummi susun balok-balok persegi sejumlah angka yang tertulis. Ummi ajak kakak menghitung jumlah titik di kartu dan menyamakannya dengan jumlah balok persegi yang sedang disusun. Menghitung kuantitas pun terasa riang.

Tak terasa pujian terdengar dari masjid. Sebagai tanda adzan Dhuhur akan segera berkumandang. Kami membereskan mainan dan bersiap mengambil wudhu. Siap belajar matematika lagi di esok hari.

#portofolioRaysa3y3m
#focus
#discipline
#harmony

problemsolver

0 comments:

Post a Comment