Friday, 4 August 2017

Belajar Bersama di Jam Riset


Hingga hari ini, ummi masih beradaptasi dan mencari pola paling tepat untuk membersamai kakak dan adik. Membersamai pembelajaran keduanya, tanpa ada salah satu pihak yang merasa menjadi korban cuek. Kakak yang kesehariannya telah terbiasa bermain bersama ummi dalam sebuah aktivitas mini project, sempat protes karena ummi sering berhalangan saat diajak bermain bersama. Ummi berhalangan dengan alasan klise, menyusui adik.

Ummi pun masih mencari pola bagaimana supaya dalam sehari ummi dan kakak masih bisa beraktivitas bersama dalam sebuah mini project dan adik terkondisikan dengan baik. Setelah berulang kali bongkar pasang jadwal, beberapa hari lalu kami menemukan jadwal yang cukup menyenangkan untuk semua pihak. Yaitu jam belajar ummi dan kakak secara intensif yang kami sebut sebagai jam riset, kami lakukan pada jam 09.00 hingga adzan Dhuhur. Beberapa hal perlu kami kondisikan supaya jam riset dapat berjalan dengan optimal, antara lain :
  1. Adik terkondisikan tidur saat jam riset. Artinya, sebelum jam 09.00 adik sudah selesai mandi dan makan. Juga bagaimana supaya sekitar jam 08.30 adik sudah mulai mengantuk. Maka jika ditarik ke belakang, adik idealnya sudah bangun maksimal pada jam 05.30. Dan alhamdulillah beberapa hari terakhir berjalan demikian.
  2. Ummi dan kakak sudah siap belajar di jam 09.00 tersebut. Artinya, kami berdua sudah makan, mandi dan sholat Dhuha. Sarapan cukup menu praktis saja, yang tidak membuang waktu banyak di dapur. Atau, karena kami sekarang tinggal di rumah yangti, maka biasanya menu makan pun ikut yangti. Ummi baru memasak untuk kakak jika kakak meminta. Untuk menu makan adik, biasanya ummi siapkan di siang hari usai Dhuhur.
  3. Penggunaan gawai. Di jam riset ini, gawai hanya ummi gunakan untuk mendokumentasikan mini project kami. Jam online ummi digeser ke jam siang, supaya ummi bisa fokus hadir penuh sadar utuh membersamai proses belajar kakak. Di jam riset ini, bukan cuma kakak yang belajar, ummi juga belajar dan melakukan observasi terstruktur yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Jam riset ini berhasil kami lakukan beberapa hari ke belakang. Dan setelah ummi amati, ini memberikan pengaruh positif pada kakak, berupa mood yang baik. Beberapa hari belakangan, jika kakak lupa membereskan mainan atau menaruh barang belum di tempatnya, lalu ummi ingatkan, kakak merespon dengan sangat baik dan lembut. Jika biasanya dia merespon dengan menolak atau meminta dilakukan bersama ummi, kali ini dia menjawab, “iya mi…” dan bergegas membereskan. Setelah beres, dia akan memanggil ummi atau menemui ummi untuk melaporkan hasil kerjanya. Daaaaaan….sangat rapi untuk anak seusianya. Dari proses ini, ummi mencatat potensi bakat responsibility di diri kakak.

Di saat jam riset, meski tidak melakukan mini project, kakak juga belajar banyak hal. Pernah suatu hari, kakak sedang bermain mandiri, kebetulan adik terbangun di sela jam riset kami sehingga ummi harus menyusui adik. Ummi berikan bahan-bahan pada kakak untuk membuat beras warna dan minta izin menyusui adik. Kakak pun anteng bermain beras warna. Belajar menuang, menakar tetesan pewarna yang pas, mencampurkannya hingga merata, juga menambahkan beras putih saat warna masih terlalu pekat. Lalu kakak meninggalkan beras warna itu selama beberapa saat. Hingga tiba-tiba terdengar teriakan, “Ummiiiiii…beras warna kakak dirubung semuuuuut…” kakak menemui ummi dengan wajah kebingungan. Aha! Ini momen untuk mengajak kakak menganalisa dan memecahkan masalah. Ummi meminta kakak menceritakan kronologis kejadian. Dengan kakak bercerita, ummi bisa memahami kronologis kejadian, melihat pola kakak bercerita apakah cukup runtut atau tidak. Keruntutan penyampaian kakak ini menganalogikan seberapa runtut pula proses berpikir kakak. Dari apa yang kakak sampaikan, ummi melihat ada potensi bakat discipline.

Ternyata semut datang saat kakak meninggalkan beras warna tersebut beberapa saat. Oke, ummi pun mengajak kakak menggali ide, kira-kira bagaimana cara mengusir semut itu ya? Bagaimana kalau coba kita jemur di teras depan rumah? Siapa tahu hangatnya sinar matahari membuat semut beranjak dari beras? Wajah kakak yang sudah menahan tangis berubah menjadi ceria, dia bergegas menjemur beras warna di teras. Lalu terdengar laporan, “Ummi, beras warnanya kakak jemur di teras ujung, biar terkena sinar matahari semuanya…” Sepuluh menit berikutnya kembali terdengar, “Ummiiiiiii…..semutnya tinggal sedikit…tinggal di pinggir-pinggirnya aja…” Dan sepuluh menit berikutnya kakak kembali masuk ke rumah dengan keberhasilan menyelesaikan misi mengusir semut. Dari proses ini kakak belajar menjadi problem solver. Mengubah masalah jadi tantangan.

Tak setiap jam riset adik terlelap tidur. Pernah adik belum tidur saat jam 09.00 datang menjelang. Kakak sudah tidak sabar ber-mini project, tapi karena adik belum tidur, kakak belajar bersabar dan memilih membaca buku untuk mengusir ketidaksabaran, hehe… Pernah juga di sela-sela kami belajar, adik menangis terbangun dan enggan tidur kembali. Maka, jadilah jam riset kami lakukan bersama adik dengan tema dan media belajar yang sama, namun objek yang berbeda. Seperti kemarin. Kakak asyik mencetak beras warna dengan puzzle huruf. Saat adik bangun, kakak beralih membaca buku dengan ummi, sedangkan adik bermain puzzle huruf yang usai dimainkan kakak. Sesekali kakak mengajarkan adik cara memainkannya. Terlihat potensi bakat harmony dan emphaty dari kakak ke adik.

Sedangkan adik, di setiap permainan yang disediakan , adik senang menciptakan bunyi-bunyian. Entah dengan memukulkan benda ke lantai atau menepukkan tangan ke meja. Jika menemukan benda berbentuk silinder, adik suka mengambil dan menggulingkkannya ke lantai, mengamati pergerakannya. Menstimulasi perkembangan aspek kognitifnya. Tempat favorit adik adalah tempat dimana dia bisa berpegangan karena adik sedang suka belajar berdiri sendiri. Benda-benda kecilpun tak luput dari perhatiannya. Dia amati kemudian jumput menggunakan jemari kecilnya. Tak jarang dia masukkan ke mulut. Proses ini menunjukkan gerakan tubuh yang terkoordinasi.

Adik mengetahui siapa namanya dan akan menoleh jika dipanggil namanya. Namun, ada respon berbeda yang dia tunjukkan saat dipanggil oleh kakak. Saat ummi dan yangti memanggil nama adik, dia cukup menoleh lalu tersenyum. Sedangkan jika dipanggil oleh kakak, dia membalas dengan teriakan, “Haaaa…” dan bergerak menghampiri kakak. Baginya mungkin panggilan kakak adalah ajakan main untuknya. Tak jarang ummi menemukan mereka berdua sedang tertawa bersama. Kakak melucu, dan adik tertawa terbahak-bahak. Naluri saudara kandung mengiringi komunikasi mereka. Terlihat perkembangan aspek sosial emosional dalam proses tersebut. Sebuah peristiwa manis yang mengukir senyum ummi hari itu.

#analyze
#problemsolving
#emphaty
#harmony
#discipline
#responsibility
#kognitif
#sosialemosional
#koordinasi

0 comments:

Post a Comment