Monday, 7 August 2017

Menyemai Kecintaan dengan Pembiasaan



"Ummi...nanti kalau kakak sudah besar, kakak yang nyuci baju ya. Bajunya kakak, adik, abi sama ummi. Boleh mi?"

"Kyaaaa..tentu saja boleh Nak, sangat boleh sekali. Ummi senang sekali kalau begitu." jawab ummi sembari tersenyum lebar.

Percakapan ini terjadi setelah kami mencuci bersama, yang mana kakak masih mengenakan pakaian basah. Permintaan kakak diatas cukup sebagai bekal ummi untuk berasumsi bahwa bagi kakak, mencuci adalah hal yang menyenangkan. Bagi ummi dan abi, hasil dari proses ini bukanlah pakaian yang tercuci bersih atau proses yang berjalan sempurna. Karena jika hal-hal tersebut menjadi indikator, tentu proses pagi ini masih jauh dari keberhasilan. Karena yang jelas terlihat adalah justru air yang terpercik kemana-mana, baju yang basah dan butuh diganti, juga cucian yang terserak kemana-mana.

Ummi, di hadapanmu ada seorang pembelajar mandiri berusia 3 tahun 3 bulan. Apa kau mengharap cucian yang terbilas sempurna, padahal otot-otot tangan mungilnya bahkan sedang berlatih? Apa kau mengharap dia membantu dan mempersingkat durasi mencucimu, padahal dia ingin memeras baju berulang kali dan itu membuatmu menunggu? Ummi, kau sedang membersamai seorang pembelajar atau seorang robot?


Ummi, jika kau memang sedang membersamai pembelajar, lihatlah binar matanya saat bermain air dan memeras baju sekuat tenaga. Tak ada rasa enggan, malas dan menganggap pekerjaan tersebut adalah sebuah beban. Dia lakukan dengan penuh sukacita. Bukankah pola pikir seperti ini yang akan membawanya menjadi seorang pembelajar tangguh? :)

Dari penawarannya setelah mencuci bersamamu, tak terlihatkah potensi bakat emphaty dan arranger kakak? Jika ummi jeli, dalam sebuah peristiwa, terdapat banyak potensi yang dia perlihatkan.

Sudah beberapa hari ini kami memiliki jam riset. Jam dimana kakak dan ummi duduk bersama-sama belajar sebuah hal. Kakak sering menyebutnya sekolah. Dan kakak sangat bergembira saat diberitahu bahwa l kakak sudah sekolah.

Hari ini ummi ada rapat pengurus majlis ta'lim, maka sejak awal hari ummi sounding ke kakak dan adik perihal ini. Bahwa yang rapat nanti bukan hanya ummi, tapi juga kakak dan adik. Yang terlibat dalam kepengurusan bukan hanya ummi, tapi juga kakak dan adik, sepaket. Kakak menaiki tangga menuju tempat rapat dengan bersemangat. Di tempat rapat, ada beberapa anak kecil yang turut serta. Kakak cepat beradaptasi, tak lama sudah berlarian kejar-kejaran dengan anak lain yang sebaya. Tak lama, mereka lelah dan beristirahat. Satu per satu memegang HP dan asyik terlarut dengan mainan di HP. Kakak yang sedang menjalani proses puasa screen time, membuka buku yang dibawa, dan membaca dengan anteng. Tak sedikitpun merajuk minta membuka HP. Potensi bakat discipline dan responsibilitynya pun nampak.

Keesokan harinya, ummi mengajak adik dan kakak ikut dzikir ma'tsurot. Tidak mudah memang, tapi kami mencoba. Kakak sudah kondusif karena sudah terbiasa. Adik pun sedang dibiasakan. Agar terbiasa mendengar dzikir, agar terbiasa menautkan hati dan pikiran pada Allah dan agar terbiasa mengkondisikan diri di majlis ilmu.

Serupa dengan membiasakan adik makan di kursi makan. Bukan hal yang mudah, tapi jangan menyerah. Kursi makan memang membuat adik terkekang, tapi kita bisa membuat suasana yang lebih menyenangkan. Misalnya, dengan mengajak dia makan sendiri (baby led weaning). Memang akan lebih kotor, lebih banyak pekerjaan setelahnya. Tapi proses makan dirasa menyenangkan oleh adik. Tidak menimbulkan efek traumatis. Mungkin jika menyerah, kemudian mengajak adik makan dengan menggendongnya akan mempersingkat durasi makan dan tidak menimbulkan kotor, tapi apakah fitrah belajar anak terakomodir dengan baik? :)

Ajarkan cinta pada anak-anak. Karena yang cinta pasti akan taat. Taat dengan penuh kesadaran.

#fitrahbelajar
#responsibility
#arranger
#emphaty






0 comments:

Post a Comment