Tuesday, 19 July 2016

Catatan Singkat Hasil Diskusi Konsep Fitrah Anak dan Perumusan Aktivitas Anak CBE HEbAT Bandung

[Pendidikan Berbasis Keluarga]
16 Juli 2016

Diskusi Konsep Fitrah dan Perancangan Kegiatan CBE HebAT Bandung


Dari info grup WhatsApp HebAT, agenda dalam pertemuan ini ada 3, yaitu :

  • Kajian konsep fitrah
  • Briefing untuk mentor anak
  • Merancang kegiatan CBE HebAT Bandung (berdasar framework)
Diskusi dimulai dengan perkenalan antar member, dilanjut sharing konsep fitrah sesuai pemahaman masing-masing keluarga. dari cerita masing-masing keluarga, saya mendapat banyak pelajaran.

Kajian Konsep Fitrah

Ada seorang bapak dengan 5 orang anak yang keseluruhannya adalah homeschooler. Beliau menceritakan gaya pendidikan keluarga yang cenderung bebas. Mengambil hal-hal baik dan positif sesuai dengan nilai keluarga. Ada juga seorang bapak yang menceritakan pengalamannya mendampingi putra-putrinya belajar. Bahwa sang bapak sempat mengalokasikan waktu beberapa bulan untuk tidak bekerja seperti biasa, demi mengamati perilaku belajar sang anak. Dan hasilnya, beliau meminta sang istri untuk resign dan hadir sepenuhnya mendampingi anak-anak bertumbuh kembang dan belajar. Ada juga seorang bapak yang anak sulungnya sudah menginjak SMA, dan memutuskan supaya anaknya memperdalam agama dan skills di usia SMAnya, tidak lagi mengenyam bangku formal. Semoga saya tidak salah tangkap dari pemaparan beliau-beliau. Diskusipun mengalir ke kondisi anak-anak yang sekolah. Ternyata tidak sedikit anak-anak yang mogok sekolah. Merasa waktu belajar yang terlalu panjang dan menjenuhkan, hingga mereka enggan dan memilih untuk sekolah di rumah bersama orangtuanya. Inilah yang sering menjadi titik balik para keluarga. Siap tidak siap, jalani. Karena anak memang menghendaki seperti ini.
Dari cerita-cerita para kepala keluarga tersebut, betapa saya merasakan nikmat Allah yang begitu besar. Dipertemukan dengan komunitas belajar sejak anak sulung baru lahir. Sehingga meski masih compang-camping, setidaknya berada di starting point yang sesuai. Belum terlambat, insyaAllah. Dan, masih ada waktu untuk memantaskan diri menjadi fasilitator belajar keluarga. Sekolah atau tidaknya anak-anak kami kelak, sepenuhnya diputuskan oleh mereka. Namun, jika nanti ternyata mereka menginginkan homeschooling, kami harap nanti kami akan mengangguk menyetujui dengan ilmu dan ketrampilan yang mumpuni.
Cerita inipun menjadi bahasan kami berdua saat Home Team Disscussion. Suami mengangguk-angguk, kemudian berujar, “Biya harap, langkah yang kita lakukan, selalu dengan pertimbangan yang matang dan merupakan hasil kesepakatan. Sehingga kita melangkah dengan penuh keyakinan. Kita sekeluarga, bukan pribadi masing-masing. Sehingga, harapannya bisa memperkecil hal-hal yang bisa kita sesali di kemudian hari.”

Briefing mentor anak dan merancang kegiatan anak CBE HebAT Bandung

Seusai sholah Dhuhur, agenda berlanjut kesini. Disini kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, untuk orangtua yang memiliki anak berusia 0-7 tahun, sedangkan kelompok kedua untuk orangtua dengan anak usia 7-14 tahun. Dalam kelompok, kami menyusun aktivitas anak baik jadwal dan ragam aktivitas yang sekiranya dapat difasilitasi oleh para anggota kelompok. Ya, setiap anggota bergiliran menjadi fasilitator dalam aktivitas tersebut. Bukankah perlu orang satu desa untuk membesarkan seorang anak? Agenda yang telah disusun tersebut direncanakan efektif berjalan mulai bulan Agustus 2016.

#griyariset
#pendidikanberbasiskeluarga
#pendidikanberbasisfitrah
#pendidikanberbasiskomunitas
#ODOPfor99days
#day89


0 comments:

Post a Comment