Saturday, 16 July 2016

Pembelajaran akan Pentingnya Belajar Mengungkapkan Perasaan

Sebuah catatan lama, yang saya tulis di awal Januari 2016.

Saat saya meniatkan bahwa di bulan ini saya akan belajar dan praktek mengenai komunikasi produktif dalam keluarga, maka di saat itu pula, Allah menunjukkan kasih sayangNya, memberikan pelajaran berharga untuk menyadarkan betapa pentingnya mengutarakan pendapat. Menjalankan sebuah komunikasi produktif dalam rumah tangga.
Kala itu, malam minggu. Selepas adzan mghrib usai berkumandang, deru motor yang mengarah ke rumah menyusul, menandakan suami pulang dari kegiatan luarnya. Mata si kecil berbinar, siap menyambut kedatangan pujaan hatinya. Pintu belakang terbuka, dan dengan setengah berteriak, ia pun memanggil, “Abiiii… Abiiii…. Abiiiiii….” Dan tak lama, ia sudah berada di gendongan sang ayah. Saling menyapa dan melepas rindu.  J
Setelah menunaikan sholat Maghrib, kami berkumpul bersama. Di akhir minggu ini saya ingin mengajak untuk melakukan Home Team Discussion (HTD). Tiba-tiba, suami mengatakan, “ Nanti Biya futsal ya, sebentar aja. Biya kayaknya perlu olahraga.” Raut wajah saya berubah. Hati kecil saya berkata, “Jangan berangkat, di rumah saja, bercerita dan berdiskusi bersama kami.” Tapi tak sampai keluar dari mulut, saya hanya terdiam, antara keberatan dan enggan menyatakan. Saya menjawab dengan berdehem. Masih keberatan, tapi tak sampai hati untuk menahannya pergi. Biya memang butuh olahraga. Sesi Home Team Disscussionnya mungkin bisa dijdwalkan ulang, karena futsal tak bisa reschedule.
Beliau pun berangkat futsal, saya pun coba menata hati. Melanjutkan aktivitas malam hari. Pukul 20.30 WIB, saat saya menemani si kecil tidur, HP berdering. Dari Biya.
Suami    : Assalamu’alaykum, Miii..
Istri        : Iya, wa’alaykumsalam…
Suami    : Jangan panik ya, yang tenang, insyaAllah nggak apa-apa.
Istri        : (Saya diam mendengarkan, sembari bertanya-tanya dalam hati, kenapa? Ada apa?)
Suami    : Biya tadi lengan kirinya terbentur tembok. Ini masih dibawa mobil ambulance ke rumah sakit. Tenang ya, Mica tunggu kabar aja. Oya, nanti teman Biya ke rumah, nganterin motor. (Diucapkan oleh beliau dengan nada yang amat sangat datar).
Saya pun terus terjaga dan berdoa semoga kami selalu dalam lindunganNya. Sembari menunggu kabar, saya menelusur kejadian-kejadian sebelumnya. Ah iya, mungkin ini salah satu cara Allah mengingatkan saya untuk senantiasa berkomunikasi yang baik dengan suami. Bersikap terbuka dan mengatakan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan. Singkat cerita, suami ternyata mengalami patah tulang yang mengharuskannya menjalani tindakan operasi berlanjut rawat inap beberapa hari. Selama masa itu, kami berdua bermuhasabah, termasuk membahas mengenai  komunikasi yang belum produktif tersebut. Bukan berarti jika saya mengutarakan keberatan, maka kecelakaan tersebut tidak terjadi. Kami yakin itu sudah ketetapan Allah. Namun, jika rasa keberatan tersebut tersampaikan oleh saya, maka suami akan mengetahuinya dan menjadikan hal tersebut salah satu pertimbangan dalam mengambil sikap. Pun jika tetap berangkat, suami akan memberikan pengertian sehingga saya lebih lapang melepas kepergiannya untuk berolahraga malam itu.
Terus berusaha memperbaiki diri, hingga Allah pantaskan diri menjadi lebih baik. InsyaAllah.

#ODOPfor99days
#day6
#JurnalKomunikasiProduktif
#KurikulumBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#griyariset




0 comments:

Post a Comment