Tuesday, 19 July 2016

Mini Project : Melipat Mukena Sendiri

[Mini Project]

Memandu Kemandirian : Melipat Mukena Sendiri

Melipat mukena adalah salah satu tugas kemandirian yang kami latihkan untuk MeGi di usia 2 tahun. Karena dia senang mengenakan mukena, kami berinisiatif memesankan mukena ke tetangga untuk MeGi. Ibu tetangga ini pintar menjahit, sehingga kami bisa memesan dengan ukuran khusus. Berbonus sajadah bermotif senada pula. Alhamdulillah. Sebelumnya, MeGi cukup puas mengenakan kerudung saya jika beraktivitas sholat.
Kegembiraannya memakai mukena baru, kami jadikan momen untuk memandu kemandirian dan melatih tanggung jawab. MeGi yang biasa sholat berjamaah dengan saya, secara otomatis mengikuti setiap gerak gerik yang saya lakukan. Maka, usai sholat sayapun bersegera melipat mukena. Di awal, dia akan bersemangat sekali ikut melipat mukena. Namun saat melihat mukena saya sudah terlipat rapi sedangkan miliknya masih tak berbentuk, dia mulai kesal.

MeGi     : “Mi, susaaaaaaah…”  
Saya       : “Bisa nak, coba bismillah dulu”
M            : “Bismillah…
                  “Ga bisa Miiii…”
S              : “Oke, boleh Ummi bantu?”
M            : “Iya”
S              : “Oke, kalau begitu, satu-satu ya. Ummi lipat mukenanya, MeGi lipat bawahannya. Begini caranya (sambil mempraktikkan)
M            : (mengikuti instruksi) “Bisa Mi!”
S              : Alhamdulillah, ternyata bisa kan? Enak kan jadi anak mandiri?
Tersenyum bersama.

Dialog diatas terjadi saat awal-awal tugas melipat mukena kami latihkan padanya. Ada kalanya dia keberatan, “Ummi aja yang lipat… MeGi ngga mau”, atau “Ngga…MeGi ngga bisa”. Nah, tantangan nih… Kalau sudah seperti ini, kami anggap ini pertanda kami harus mengganti strategi komunikasi MeGi. Kalau tantangan itu terjadi, yang kami upayakan adalah :

Bertanya. Menanyakan alasan dia tidak mau melipat. Biasanya karena ada hal baru yang keburu menarik perhatiannya. Maka, yang dikakukan adalah, mengalihkannya dari hal baru tersebut dan mengingatkannya untuk bertanggung jawab. Tentu jika langsung disampaikan, dia akan langsung menolak. Perlu memberikan strategi baru supaya tugas tersebut menjadi sebuah amanah yang menyenangkan dan menantang untuk dilakukan olehnya.

Bagaimana strateginya?


Abiya menggunakan strategi hitungan. Jadi saat dia enggan melipat mukena, maka Abiya membuat kompetisi melipat mukena antara Micha dan MeGi dengan aba-aba hitungan 1-10. Ini pernah berhasil.
Micha menggunakan strategi dialog. Begitu dia menolak melipat mukena, saya mendiamkannya sejenak sembari tetap melipat mukena milik saya. Sembari dia asyik bermain atau melakukan sesuatu, saya ajak dialog, misalnya seperti ini :
Saya       : “Nduk, kenapa mukenanya nggak dilipat?”
MeGi     : “Ngga mau, Ummi aja.”
S              : “Ooo…gitu, memangnya kenapa?”
M            : “Kan MeGi lagi baca iniiii…” (dia mengemukakan alasan)
S              : ”Iya, boleh koq baca itu. Tapi kan kesepakatan kita, habis sholat, kita sama-sama melipat mukena. Ummi tadi sudah melipat mukena Ummi. Ingat kan, anak yang mandiri itu juga bertanggung jawab atas barang miliknya. Hmm…kira-kira MeGi anak yang mandiri bukan ya?” (mengingatkan dan memberi umpan anak untuk mengambil sikap)
M            : (berdiri dan bergegas pergi) “Iya Mi, MeGi lipat mukenanya.”
S              : “Bagus, itu namanya anak yang bertanggung jawab”

Saya mendampinginya dan memeluk sebagai tanda apresiasi. Jangan ditanya seperti apa hasil lipatannya. Tentu jauh dari kata “rapi”. Tapi itu bukanlah tujuan. Sikap bertanggungjawabnyalah yang ingin kami bangun. InsyaAllah hal-hal teknis seperti kerapian, teknik melipat dan sejenisnya akan mengikuti seiring pertambahan usianya.  
               
Wallahu a'lam
                
#griyariset
#miniproject
#kemandiriananak
#ODOPfor99days
#day88

0 comments:

Post a Comment