Tuesday, 28 April 2020

Belajar Menakar Kemampuan dan Melatih Konsistensi Diri


Tahap Kepompong ini adalah tahap belajar mengendalikan diri. Terbebas dari hiruk piruk informasi lalu lalang. Terlepas dari riuh ramai suara di sekitar. Menepi dan menyendiri. Menentukan satu keterampilan yang konsisten igin dilatih menjadi sebuah tantangan yang dijalankan selama tiga puluh hari berturut-turut bukanlah perkara mudah. Goals utama dari proses ini tentu melatih konsistensi diri untuk menjalankan suatu hal yang kita butuhkan untuk berproses menjadi cekatan di bidang tertentu. Oke, saya longok lagi peta belajar. Sengaja di peta belajar saya khusus menuliskan Mama lernt Deutsch sebagai proyek prioritas karena keterampilan ini merupakan suatu hal yang memang saya perlukan saat ini dan berpengaruh pada hal lainnya.
Di tahap telur, ada rasa aneh dimana saya justru mengambil bidang bahasa, bukan termasuk bidang yang famous di kalangan peserta Bunda Cekatan kala itu. Namun karena ini merupakan kebutuhan belajar prioritas saat ini, maka saya maju terus. Terlebih kala pak Dodik menyampaikan bahwa fokus pada durasi belajar selam enam bulan kelas Bunda Cekatan. Aha, poin yang saya tangkap, semakin spesifik semakin bagus. Karena akan semakin mudah mengasah keterampilannya.
Di tahap ulat, bidang bahasa terbukti merupakan bidang dengan sedikit peminat. Namun di tahap ini saya mendapat kesempatan untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan bahan belajar baik yang didapatkan dari peserta lainnya maupun mencari mandiri di perpustakaan. Saya pun bersiap untuk masuk ke kelas kursus intensif B1 di awal Maret lalu. Namun ternyata baru dua pekan masuk, kami harus belajar mandiri di rumah karena wabah COVID-19. Wah, tantangan baru ini menjelang tahap kepompong. Karena ternyata saya tidak bisa menjalani kursus intensif seperti dua semester sebelumnya. Yang dalam empat hari dalam sepekan saya pergi ke tempat kursus untuk belajar offline selama sekitar tiga jam dan menitipkan Ahsan di Kinderbetreuung.
Kursus intensif sempat jeda tanpa kabar selama beberapa hari. Sampai kemudian guru kami membuatkan WhatsApp Group untuk media penyampaian tugas dan diskusi singkat. Format belajar menjadi mengerjakan soal kemudian dikoreksi oleh guru. Masuk tahap kepompong bersamaan dengan berpindahnya kursus dari offline ke online seolah memberi tantangan pada saya untuk ojo kalah karo wegah. Jadi, tantangan tiga puluh hari apa yang akan saya jalankan dengan situasi di luar dugaan seperti ini?
Tadinya, saya terpikir untuk menjadikan sesi belajar bahasa Jerman secara mandiri di rumah sebagai sebuah aksi tantangan tiga puluh hari. Tapi saya mengurungkan niat tersebut. Terlalu egois dan kurang realistis rasanya untuk kondisi pandemi seperti ini. Suami full bekerja di rumah dan seringkali butuh fokus sehingga perlu mengurung diri di kamar. Anak-anak tentu membutuhkan perhatian khusus di kondisi tidak ideal ini. Saya memikirkan benang merah antara : belajar bahasa Jerman - menjalankan Home Education  - memanfaatkan buku perpustakaan yang sudah kami pinjam dalam jumlah banyak sebelum terjadi pandemi.  Saya merasa belum tuntas membacakan setiap buku karena setiap kali membacakan seringkali terdistraksi dengan kantuk sehingga mencukupkan diri membacakan hingga ke halaman pertengahan saja. Jarang tuntas hingga akhir. Maka bismillah, tantangan yang tercetus adalah
Membacakan buku anak berbahasa Jerman satu buku satu hari selama tiga puluh hari berturut-turut.
Dengan membacakan buku anak, saya bisa belajar kosakata dan susunan kalimat baru setiap harinya. Anak-anak pun terfasilitasi kebutuhan belajarnya dengan dibacakan buku secara rutin. Bahkan mereka menjadi support system yang terus menanyakan kapan sesi membacakan buku itu tiba. Kondisi ini mengingatkan saya pada perkataan pak Dodik di sesi Nge-ZOOM bareng tadi, bahwa yang terpenting dari kita adalah terus bergerak. Nanti saat bergerak, akan datang kejutan dukungan positif dari lingkungan terdekat, dari anak-anak maupun suami, tanpa kita menuntut mereka. MasyaAllah.
Karena fokus utama saya adalah berjalannya Home Education maka indikator keberhasilan yang saya canangkan bukan seputar capaian bahasa Jermannya, namun tingkat fasilitasi saya. Maka muncullah tingkatan badge sebagai berikut :
Need improvement : Jika saya tak sempat membacakan buku atau tak sampai tuntas satu buku.
Satisfactory : Jika saya membacakan buku sampai tuntas namun sembari mengerjakan hal lain.
Very Good : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain.
Excellent : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain dan memfasilitasi rasa penasaran anak dengan sabar.
Di pekan pertama, saya merasa tingkatan ini kurang tepat jika peta belajar saya adalah belajar bahasa Jerman. Saya sempat ingin menggantinya namun setelah berpikir ulang, saya mengurungkan niat tersebut. Setidaknya saya perlu menjalankannya selama tiga puluh hari sehingga saya bisa benar-benar merasakannya.  Tidak hanya sekadar terkena godaan sementara. Dan ternyata benar, sekarang saya merasakan indikator yang saya canangkan di awal sudah cukup sesuai karena dengan tercapainya semakin banyak indikator capaian, secara tidak langsung berpengaruh  positif pada mood anak-anak sehingga kami bisa bekerja sama dan saling mendukung dalam setiap kegiatan, termasuk penulisan jurnal tantangan tiga puluh hari bagi saya.
Untuk menambah bobot kualitas belajar bahasa Jerman dalam pengerjaan tantangan tiga puluh hari, maka saya membuat resume singkat dari setiap buku yang telah saya bacakan. Karena saya menulis tantangan di blog, maka saya rasa aneh jika tulisannya sangat singkat. Nah, resume buku tersebut sekaligus membantu saya untuk menyajikan jurnal yang cukup panjang setiap harinya. Langkah membuat resume ini juga menjadi tolok ukur pemahaman saya atas buku anak yang saya baca. Berapa kosakata baru yang saya serap? Berapa susunan kalimat yang baru saya temui? Tak jarang, materi yang sedang disampaikan di kursus bahasa secara online atau materi grammar yang sedang dibahas, saya temukan contoh kalimatnya di buku anak yang sedang saya bacakan. Ini improvisasi teknis di luar skenario awal namun sangat membantu untuk tetap on track pada peta belajar dengan tetap memfasilitasi salah satu customer utama yaitu anak-anak.

Buku Anak yang Menemani Proses menuju Cekatan
Tantangan tiga puluh hari yang dijalankan bersamaan dengan tantangan puasa, membuat proses belajar menjadi saling menguatkan. Tantangan puasa yang saya jalankan di dua pekan pertama adalah manajemen emosi. Mengapa? Karena ketidakidealan situasi yang terjadi secara tiba-tiba cukup menggoyah kestabilan emosi. Tak ingin berlarut dan berujung konflik maka saya menjadikannya sebagai tantangan puasa. Hasil dari tahap ini, suami memberikan testimoni positif dan apresiasi atas proses ini. Jurnal puasa manajemen emosi bisa disimak di sini dan di sini 
Puasa dilanjutkan di pekan ketiga dan keempat denga topik berbeda, yaitu gadget hours management. Selama pandemi, mendadak banyak hadir kelas online gratis. Makin susah untuk praktik  “menarik tapi tidak tertarik”. Saya sempat terjebak ikut di beberapa kelas online yang sifatnya serondolan atau di luar rencana. Namun kemudian pada akhirnya hanya satu yang saya putuskan sebagai prioritas utama dan saya ikuti dengan penuh kesungguhan hingga akhir. Sedangkan kelas lainnya saya belajar ikhlas untuk melepaskannya. Dalam tantangan ini saya juga menjalankan gadget hours berkesadaran dan mengidentifikasi tantangan yang muncul terkait peran yang diemban dan dijalankan via online. Kemudian merumuskan strategi lanjutannya. Tulisan mengenai tantangan puasa gadget hours management bisa disimak di sini dan di sini
Frame Apresiasi Tantangan Puasa
Karena konsisten itu berat, maka tantangan tiga puluh hari yang saya kerjakan pun cukup sederhana, bisa dikerjakan dalam durasi dua hingga tiga jam per harinya sepaket dengan pengerjaan jurnalnya. Alokasi waktunya cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan), prosesnya membahagiakan diri dan anak-anak dan signifikan untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi (butuh belajar bahasa Jerman,perlu memfasilitasi anak-anak dan menghilangkan kebiasaan tak tuntas membacakan buku). Ini poin-poin yang cukup signifikan bagi saya, sebagai tolok ukur sederhana bahwa saya bisa menakar kemampuan pribadi.
Frame Apresiasi Setoran 30 Hari Berturut-turut
Di tahap ini, dengan izin Allah saya berhasil menuntaskan tantangan tiga puluh hari selama berturut-turut dan menyelesaikan empat jurnal puasa. Karena berhasil konsisten tanpa rapel, ada kejutan apresiasi berupa nge-ZOOM bareng pak Dodik dan bu Septi. Saat „lebaran“ tahap kepompong pun ibu dan bapak mengapresiasi setiap peserta dengan pencapaiannya masing-masing. Sangat terasa jargon „apresiasi,bukan evaluasi“ dan „fokus pada hal baik, bukan kekurangan“. Sudah disiapkan badge cantik untuk setiap peserta yang lulus dan lanjut ke tahap kupu-kupu.
Sesi Kejutan ZOOM bersama pak Dodik dan bu Septi

Jika dalam Adversity Quotion (AQ) ada tiga tipe kepribadian, maka saya belajar dan berupaya untuk menjadi seorang Climbers. Maka seusai tahap Kepompong, bulan Ramadan dan bulan Syawal menjadi momen untuk menempa diri selanjutnya. Proyek Mama lernt Deutsch masih terus berjalan dan akan menjadi master untuk proyek-proyek diri berikutnya. Sekian aliran rasa tahap kepompong kali ini.Yuk, optimalkan momen ini sebaik-baiknya menuju pribadi bertaqwa. Aamiin.








0 comments:

Post a comment