Wednesday, 8 April 2020

Karena Mengelola Emosi Membutuhkan Komitmen dan Konsistensi


Kecerdasan emosi merupakan kebutuhan mendasar yang perlu saya kuasai untuk menunjang produktivitas dan menjaga keseimbangan peran. Urgensinya pun semakin mendesak karena juga didukung oleh suami. Karena perolehan badge sepuluhari pertama kemarin masih berwarna-warni, saya memutuskan untuk melanjutkannya di putaran kedua tantangan puasa tahap kepompong ini.
Di pekan kedua ini, giliran suami saya yang mengalami ujian sakit. Beliau radang tenggorokan juga signifikan. Karena tren penularan virus Covid-19 yang masih terus menanjak naik, beliau menolak untuk dibuatkan termin ke Hausarzt. Beliau memilih untuk mengkonsumsi obat yang saya dapatkan sebelumnya dari dokter dan beristirahat total. Tidak ideal memang, karena penyakit yang kami derita belum tentu sama sehingga obat yang diperlukan pun bisa jadi berbeda. Namun suami khawatir dengan kondisi beliau yang kurang fit, beliau menjadi rentan tertular virus Covid-19. Pertimbangan yang cukup mendasar. Setelah kami berdiskusi, saya menyepakati keputusan beliau. Di sini saya merasa bahwa inilah momen untuk taat pada pimpinan. Taat yang diwujudkan dalam bentuk dukungan dan pelayanan penuh untuk kesembuhan beliau.
Bersyukur. Kata ini menjadi kunci saya mengelola emosi di pekan kedua ini. Rumah yang berantakan, jadwal pengerjaan tugas yang sering bergeser, juga  frekuensi di dapur yang lebih panjang dari biasanya merupakan konsekuensi dari proses karantina Corona ini. Ah, semuanya sedang mengalami kondisi penuh ketidakidealan, bukan? Maka kini saatnya melatih diri untuk adaptif pada kondisi yang tidak ideal sehingga kompetensi diri pun semakin meningkat. Ini momen untuk meningkatkan kapasitas diri. Alhamdulillah.


0 comments:

Post a comment