Skip to main content

Tantangan 30 Hari Day 30 : Membacakan Buku Anak berjudul "Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule"

MasyaAllah, Allah sampaikan di titik akhir tantangan tiga puluh hari ini. Ya, hari ini adalah hari terakhir menjalankan tantangan tersebut. Semoga Allah mampukan pula untuk menjaganya sebagai sebuah kebiasaan baru. Aamiin. Karena hari ini adalah hari terakhir, maka saya memilih buku spesial untuk dibacakan dan terpilihlah buku “Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule”. Apa sisi spesial buku ini dibanding buku-buku yang sebelumnya dibacakan? Yaitu karena buku ini lebih tebal dari biasanya. Terdiri dari 69 halaman yang didominasi oleh tulisan. Untuk membacakan buku ini, butuh effort lebih dari dalam diri saya, untuk melawan keengganan dan pikiran semacam, „koq tebal ya? Lama dong selesainya nanti...“. Nah, ini juga sekaligus mengecek sudah ada peningkatan apa saja dalam diri setelah penempaan tiga puluh hari ini. Kan seharusnya jika prosesnya berjalan benar, maka setelah berjibaku membangun kebiasaan di durasi waktu tersebut, ada kompetensi yang meningkat juga kebahagiaan yang menguatkan diri. 
Maka, kami baca buku ini bersama. Karena buku ini tebal, maka ceritanya pun cukup kompleks. Satu tema mengenai kedatangan ke sekolah, terbagi ke dalam delapan cerita. Dan kesemuanya menarik, karena memuat konflik yang beragam. 
Cerita pertama memaparkan pertemuan Kokosnuss dengan Fressdrache saat Kokosnuss berangkat ke sekolah Naga (Drachen Schule) untuk menghadiri penyambutannya sebagai murid baru. Berlanjut cerita kedua, yang mana Kokosnuss menjalani hari pertamanya di kelas, berkenalan dengan teman-teman yang beraneka ragam, termasuk dengan nama masing-masing yang terdengar asing di telinganya. Dia juga mulai belajar berhitung sederhana
Di cerita ketiga, mulai ada konflik. Saat di hutan, Kokosnuss bertemu dengan monyet dan Fressdrache yang sedang beradu argumen. Berapa dua dan empat? Menurut monyet jawabannya adalah enam sedangkan menurut Fressdrache jawabannya adalah delapan. Kokosnuss menengahi. Dia menjawab, jika dua ditambah empat adalah enam, sedangkan dua dikali empat adalah delapan. Usai kejadian itu, Kokosnuss mengajak Fressdrache untuk bersekolah, namun Fressdrache menolak karena orangtuanya tak mengizinkannya bersekolah. Cerita keempat berisi tentang Kokosnuss yang berkunjung ke rumah Fressdrache. Dia ingin membantu Fressdrache untuk meyakinkan kedua orangtuanya agar membolehkan Fressdrache sekolah. Sayangnya upaya mereka belum berhasil. Bagi orangtua Fressdrache terutama sang ayah, sekolah bukanlah hal penting. Namun mereka bersepakat untuk mencobanya di lain waktu. 
Di cerita keempat, Fressdrache mencoba untuk masuk sekolah. Dia belajar membaca, berhitung, juga berenang! Cerita kelima menceritakan kesedihan Fressdrache karena tidak bisa mengikuti kegiatan piknik sekolah yang akan berlangsung dua hari dua malam. Dika tidak pulang ke rumah, orangtua bisa marah. Di cerita keenam, Fressdrache menyaksikan rombongan kelasnya yang akan berangkat piknik ke Pulau Kura-Kura. Kemudian tiba-tiba ada barang berharga yang jatuh ke bawah laut, dan Fressdrache menyelam mengambilnya. Kedua orangtuanya ternyata berada di sana juga, dan menyaksikan kejadian itu, mereka berdua terkaget mengetahui anaknya bisa berenang.
Cerita keenam menceritakan keharuan orangtua Fressdrache karena menyaksikan anaknya terampil berenang, mematahkan pendapat pada umumnya bahwa jika terjun ke air mereka akan tenggelam. Akhirnya mereka pun mengizinkan Fressdrache untuk sekolah dan turut berpiknik di Pulau Kura-kura. Konflik pun usai dan di cerita kedelapan, sampailah rombongan di tempat tujuan, menyapa kura-kura yang mengantuk dan mendirikan tenda lalu makan bersama. Kemudian beristirahat karena hari sudah larut. 

Konflik yang dipaparkan di buku ini terlihat sederhana, namun dekat dengan keseharian anak-anak. Ada juga celetukan khas anak-anak seperti misalnya saat Kokosnuss dibangunkan orangtuanya di pagi hari dengan kalimat, 
„Ayo bangun, ini hari besar untukmu?“
sembari mengucek mata Kokosnuss menjawab,
„Apa itu hari besar? Apakah juga ada hari kecil?“
Polos banget khas bocah! Hihihi.

Dari buku ini saya belajar membuat kalimat langsung dalam tulisan. Yang mana itu jarang saya temui di buku-buku sebelumnya. Banyak kalimat spontan dengan letak yang tak biasanya. Dan ini hal baru juga untuk saya terkait alternatif penyusunan kalimat. Alhamdulillah, tantangan tiga puluh hari tertunaikan selama 30 hari berturut-turut. Baik menjalankan prosesnya maupun menuliskan setorannya. Menjaga komitmen dan konsistensi sungguh tak mudah, namun Allah memudahkan saya untuk bisa memenuhinya dalam tantangan ini. Semua atas kemudahan Allah. Semoga penempaan ini melatih mental saya untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan meningkat kualitas takwanya dari hari ke hari. Marhaban ya Ramadan.  

Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan