Skip to main content

Tantangan 30 Hari Day 24 : Membacakan Buku Anak berjudul “Ida und das leise Auto“


Hari ini sebenarnya alokasi waktu untuk membacakan buku terambil oleh kesibukan pribadi saya. Hiks. Maaf ya anak-anak. Jadi tadi pagi dari jam 4 sampai dengan jam 7 pagi saya mengikuti pelatihan Digital Entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Keminfo bekerjasama dengan Google. Kelasnya seru dan menyenangkan. Dan alhamdulillah bisa saya ikuti dengan seksama karena masih di awal hari dimana anak-anak masih terlelap tidur. Namun setelah mengikuti kelas, saya mengantuk, dan saya pun sempat tidur sejenak seusai kelas untuk menghimpun energi kembali. Dan alhamdulillah Allah kabulkan.

Nah, saat mengerjakan tugas domestik, saya teringat tempe yang saya buat beberapa hari lalu. Setelah saya cek, sepertinya sudah ada yang bisa diolah. Karena jamur yang muncul sedikit, jadilah saya berkonsultasi pada dua teman yang sudah terbiasa membuat tempe. Yeay,dapat beberapa pencerahan untuk percobaan ke depan. Saat tengah hari, grup kursus bahasa kembali aktif. Guru kursus memberikan PR baru, padahal PR yang kemarin baru akan saya kerjakan hari ini. Jadilah saya mengerjakan PR bahasa Jerman di siang jelang sore hari. Yang pada akhirnya, sesi membacakan buku baru bisa dilakukan di sore hari. Buku yang dipilih kembali buku bertema Energi yang kami dapatkan dari Wien Energie. Kali ini berjudul „Ida und das leise Auto“. Menceritakan tentang mobil yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya, yang merupakan salah satu bentuk teknologi ramah lingkungan.

Sebenarnya usai membacakan buku saya nyaris menyematkan badge Satisfactory untuk hari ini, karena proses sempat terjeda membuat WAG kelas Matrikulasi untuk memastikan teman-teman peserta kelas Matrikulasi sudah menyetorkan misi kedua yang berbatas waktu hari ini. Tapiiiii.... saat menempelkan badge ke Kalender, koq ngga rela yaaaa… Sayang rasanya. Lalu berpikir kembali, jika saya memang bersungguh-sungguh menjadikan proyek ini menuju cekatan berbahasa Jerman, mengapa tidak saya ulang prosesnya saja? Toh masih ada waktu. Toh anak-anak akan menyambut dengan senang. Toh dengan mengulang, saya akan lebih memahami isi buku. 
Saya pun tersentil setelah teringat sebuah hadits mengenai sebuah amalan yang sedikit namun rutin. Betapa sebuah konsistensi adalah hal yang perlu dilatihkan. Maka jadilah saya mengulang sesi ini. Dengan sesi mengulang ini, saya menjadi sempat menanyakan pemahaman si sulung mengenai cerita yang saya bacakan, juga memahami jalan cerita yang di awal belum saya pahami sepenuhnya. Lebih mindfulness rasanya. Sudah kurang enam hari lagi. Jangan kasih kendor, apalagi untuk kerikil-kerikil tantangan yang justru sudah bisa dilampaui di awal perjalanan proyek tahap kepompong kemarin. Semoga Allah berikan keberkahan di dalam proses ini. Aamiin. 


Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan