Saturday, 11 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 19 : Membaca Buku Anak berjudul “Die Muellabfuhr”


Hari ini saya membaca buku anak tanpa anak-anak. Siang hari ini saya tidur siang di saat suami dan anak-anak beberes rumah, saat saya bangun rumah sudah dalam keadaan rapi dan anak-anak bersiap menonton film sebagai bentuk apresiasi suami pada mereka. Karenanya, mereka memilih menonton film saat saya mengajak membacakan buku. Tak apa, momennya memang sedang tidak pas. Jadilah saya membaca buku sendirian hari ini.
Buku anak yang saya ambil berjudul “Die Muellabfuhr”. Selain untuk memahami bahasa Jerman, juga untuk menambah referensi bahan tulisan yang sedang saya kerjakan mengenai pengelolaan sampah di kota Wina.
Apa isi buku ini?  
Buku ini ditujukan untuk anak usia 2 s.d. 4 tahun. Jika dibandingkan dengan buku-buku anak yang sebelum-sebelumnya, yang ditujukan untuk anak usia 4 s.d. 7 tahun, memang bahasa yang digunakan lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti.

Buku ini menceritakan bagaimana seorang Muellarbeiter (petugas pengangkut sampah) menjalani hari mereka. Datang pagi hari dan mengenakan seragam yang menjadi ciri khas mereka, kemudian beraksi mengelilingi kota untuk mengosongkan tempat sampah-tempat sampah penduduk. Dijelaskan pula aneka rupa kendaraan penjaga kebersihan kota. Juga kemana sampah-sampah dari rumah-rumah penduduk itu bermuara. Sekalipun setiap sampah bisa dikelola, baik didaur ulang maupun dikonversi menjadi energi, namun proses pengelolaannya tentu membutuhkan energi yang tak sedikit. Sehingga akan sangat baik jika setiap manusia bisa mengurangi sampah dari rumah masing-masing.

Grammatik yang teramati di bacaan kali ini adalah bentuk Passiv seperti :
Wenn die Tonnen voll sind, muessen sie geleert werden.
Penggunaan dafuer sebagai berikut :
Die festen Handschuhe sorgen dafuer, dass die Muellmaenner sich nicht verletzen.
Juga infinitiv mit –zu :
Deshalb ist es wichtig die unterschiedlichen Abfaelle zu trennen und sie wieder zu verwenden.


Di hari ke-19 ini saya merasakan kebiasaan baik yang diupayakan akan membangun kesadaran belajar diri dan mengingat strong why kita menjalankan proyek ini.Tak dipungkiri di awal muncul rasa malas, namun lambat laun rasa malas itu pun semakin berkurang. Suatu hal yang terlihat sederhana, ternyata menjadi tak lagi terasa sederhana jika kita ingin menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan baru. Banyak alasan untuk menghindar dan melewatkannya, sesederhana apapun hal tersebut. Misalnya, saat ada deadline tugas lain, saya merasa tak ada celah waktu untuk mengerjakan tantangan 30 hari. Maka saatnya berkontemplasi : Bukankah proyek tantangan ini sengaja berupa membacakan buku yang mana termasuk dalam proses home education  yang lebih mendesak daripada pengerjaan tugas produktivitas? Bukan sekadar tantangan.Maka, kesalahan ada pada manajemen diri dan waktu yang kurang optimal. Solusinya bukan skip tugas tapi perbaikan manajemen diri. Maka jika sudah Allah sampaikan di titik ini, terus melaju lillahi ta’ala. Sekaligus sebagai momen menempa diri menyambut Ramadan. InsyaAllah.


0 comments:

Post a comment